Balita Bisa Membaca, Baik atau Tidak?

Metode Glenn Doman sudah populer di Indonesia sejak 2004. Namun, masih banyak orang tua bimbang dan bertanya, ‘Apakah baik mengajarkan membaca pada anak usia Balita? Apa bukannya malah membuat anak tertekan dan jenuh saat memasuki usia sekolah nanti? Sengaja diulas tema ini supaya dapat memberikan pencerahan pada kita semua..

Seorang konsultan pendidikan di sebuah lembaga yang mengkhususkan diri pada kecerdasan pribadi, Yacinta Senduk, pun terkejut ketika pertama kali mendengar bahwa usia anak-anak TK harus sudah bisa membaca. Spontan ia berseru, “Ini benar-benar edan!”
Kemudian Yacinta memutuskan untuk menelusuri sumber darimana asalnya berkembang ide bahwa anak Balita sebaiknya diajarkan membaca. “Jika hampir seluruh sekolah mengadopsi hal ini, maka akan sangat naif untuk mengatakan bahwa para guru itu sungguh tidak berperasaan karena memaksa anak-anak balita untuk dapat membaca,” pikirnya saat itu.
Penelusurannya sampai pada nama Glenn Doman, seorang pakar Psikologi andal yang selalu melakukan riset secara sistematis mengupas tuntas tentang hal ini. Diman pulalah yang diyakini sebagai pencetus ide mengharuskan anak balita membaca. Bermula dengan rasa skeptis yang besar, Yacinta membuka buku Glenn Doman pada halaman-halaman pertama dengan hati kesal dan ingin menghakimi beliau sebagai bapak yang mungkin hanyalah seorang yang menginginkan komersialisasi.
“Namun, setelah membaca bahasan-bahasan Doman sampai pada halaman terakhir, justru saya sangat bersemangat untuk menerapkan hal ini, atau paling tidak menganjurkannya pada para ibu muda yang saya kenal,” kata Yacinta tersenyum.
“Bila kita membayangkan bahwa anak-anak harus melewati cara belajar membaca seperti yang kita lewati saat masih di bangku kelas I SD, dimana semua kata mulai dengan dieja, maka cara belajar seperti ini memang akan menjadi suatu hal yang menyulitkan. Tetapi Doman tidak menawarkan cara demikian, bahkan bayi berusia 3 bulan sekalipun bisa diajarkan membaca.

Mari kita simak caranya, si Ibu disarankan ke sebuah ruangan yang tidak terlalu banyak pernak-pernik, seperti ruang kosong saja, kemudian ibu mulai mengangkat satu kata, misalnya, apel, selama beberapa detik. Kata apel ditulis dengan font tulisan yang besar diatas sebuah karton. Sambil mengangkat karton bertuliskan apel itu, ibu juga harus menyebutkan ‘apel’. Proses ini pun tidak berlangsung lama karena rentang konsentrasi anak masih pendek. Semakin bertambah usia anak, barulah perlahan-lahan jumlah waktu ditambahkan,” tutur Yacinta.
Kembali ke pertanyaan awal, apakah baik mengharuskan anak usia Balita membaca? jaaban Yacinta kini adalah, “Sangat baik, kalau diberikan dengan metode yang tepat. Ajaibnya lagi, bila metode yang digunakan sudah tepat, jangan heran kalo anak bukan hanya pandai membaca atau menulis, bahkan ia sudah menjelajahi matematika ataupun science dengan keinginannya sendiri.”
Mengapa usia balita? Karena pada periode yang disebut dengan “Golden Age” atau masa-masa keemasan, usia 0 hingga 5 tahun, sekitar 80% otak anak berkembang sangat cepat, informasi apapun akan diserap tanpa melihat baik atau buruk. “Hal paling menarik bagi saya dari cara Doman ini adalah bahwa sangat penting bagi sang Ibu atau sang Ayah yang mau mengajarkan anak batita maupun balitanya membaca untuk merasa senang dan menganggap bahwa sesi belajar membaca sebagai sesi bermain. Inilah esensi kecerdasan emosi!”
Bila di usia yang begitu belia anak sudah dapat membaca dengan penuh sukacita tanpa merasa terpaksa, rasanya orang tua manapun tidak berkeberatan akan ide mengajarkan membaca kepada anak usia balita.

*sumber Tabloid WANITA INDONESIA
edisi 998 tgl 2-8 Februari 2009

November 1st, 2010 in Article - Comments Off

Comments are closed.